Beranda | Artikel
Iman kepada Para Rasul: Dari Mengagumi Menuju Mengikuti
8 jam lalu

Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.

Mengagumi seorang tokoh jauh lebih mudah daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, apabila petunjuk tokoh tersebut bertentangan dengan kebiasaan atau keinginan, kekaguman sering berhenti sebelum berubah menjadi ketaatan.

Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyebut nama beliau dengan hormat dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, iman kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan kesungguhan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba Allah

Allah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, bagaimana beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan kabar gembira bagi orang yang taat dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bersatu pada pokok yang sama: memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti syariat beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.

Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi mereka tetap manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berhak menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengangkat mereka melampaui kedudukan yang Allah berikan.

Cinta yang memiliki bukti

Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan perasaan yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti petunjuk beliau— sebagai bukti cinta.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan petunjuk beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya bagaimana beliau beribadah, bukan bagaimana membuat bentuk ibadah yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.

Mengikuti Nabi juga bukan usaha menghidupkan bentuk masa lalu tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing prinsip dan tindakan yang tetap relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kemampuan menghadapi persoalan baru. Justru dengan fondasi petunjuk beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.

Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Baca jua: Cinta Nabi Butuh Bukti

Jalan tengah dalam memuliakan Nabi

Ada dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan zaman atau kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan ibadah atau meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.

Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pembelaan terhadap sunah, dan ketaatan tanpa sikap berlebihan.

Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari riwayat yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keindahan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.

Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini penting bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.

Dari ucapan menuju ketaatan

Kita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi masih sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, atau meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, lalu amalkan secara konsisten.

Kekaguman mudah muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita harus mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul mengajak kita bergerak dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan ketaatan yang nyata.

Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116812-iman-kepada-para-rasul-dari-mengagumi-menuju-mengikuti.html